Perjalanan Hidup DRA. BRA Mooryati Soedibyo, Melewati Sembilan Perubahan Zaman

Jakarta – DRA. BRA Mooryati Soedibyo pendiri dari PT. Mustika Ratu Tbk dan Yayasan Puteri Indonesia telah menginjak usia 88 tahun. Walaupun demikian, beliau masih tetap terlihat cantik dan prima di setiap saatnya. Terlihat jelas sekali saat beliau merayakan hari jadinya yang ke 88 tahun di Hotel Dharmawangsa Jln. Brawijaya No. 26, Kebayoran Baru. Acara mulai pukul 18:00 dibuka dengan sambutan keluarga oleh Bapak Djoko Ramiadji, dilanjutkan dengan Kisah Perjalanan Ibu Mooryati mengalami 9 periode dari zaman ke zaman lalu dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Ibu Mooryati beserta anak dan cucunya. Acara dilanjutkan dengan persembahan Tari Bedoyo “Retno Mustiko”, santap malam bersama diiringi tembang Indonesia dari bersama Dwi Putri Yanti dan Victor Hutabarat, senandung keroncong oleh Sundari Soekoco, hiburan Humor oleh Cak Lontong. Dalam acara ini, turut hadir Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo beserta Ibu Iriana dan para menteri dari Kabinet Kerja. Acara diiringi dengan tembang dari Ibu Retno Maruti, tari dari Bedoyo Retno Mustiko, penampilan dari Purwacaraka Band dan Demian. Dalam acara ini, turut hadir Puteri Indonesia 2015, Anindya Kusuma Putri, Puteri Indonesia Lingkungan 2015, Chintya Fabyola, Puteri Indonesia Pariwisata 2015, Gresya Amanda dan Finalis Puteri Indonesia.
Lahir di Villa Seneng Surakarta, Gedung Bondo Lumakso, Keraton Surakarta Hadiningrat, pada 5 Januari 1928. Wanita yang dijuluki “empu jamu” ini merupakan cucu Sri Susuhunan Pakoe Boewono X Keraton Surakarta. Ayahanda dari Ibu Mooryati, KRMTA Poornomo Hadiningrat, menjabat sebagai Bupati Brebes, putra sulung Bupati Demak, K.P.A. Hadiningrat. Anggota Volksraad (Parlement Hindia Belanda) yang tanpa kenal lelah memperjuangkan kepentingan rakyat Demak yang selalu menderita kebanjiran dan kelaparan. Ibundanya bernama GRA Kussalbiyah, Puteri Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakoe Boewono X, dari Keraton Surakarta Hadiningrat.
Ia terkenal dengan segala hal yang berkaitan dengan kecantikan, jamu tradisional, dan lingkungan keraton. Sejak Ibu Mooryati berusia 3 tahun ia sudah tinggal di Keraton Surakarta yang dikenal sebagai sumber kebudayaan Jawa. Di sinilah Ibu Mooryati membiasakan dan menghayati sejak muda tradisi budaya keraton, belajar membiasakan berbahasa Jawa yang baik, tatakrama, berbagai tata seni dan tradisi sarana perawatan kesehatan dan kecantikan, peribahasa, dan filosofi Keraton. Sejak kecil Ibu Mooryati membiasakan minum jamu yang diramu oleh mbah Nyai Sri Mulki, seorang ahli herbalis wanita, abdi dalam keraton.

Usianya yang sudah memasuki 88 tahun tidak pernah menyurutkan langkahnya dalam berkarya. Beliau masih aktif dalam berbagai kegiatan, seperti sebagai salah satu penasehat HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), pembicara seminar dan lokakarya juga sekolah yang beliau dirikan yaitu LPPMS (Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Mooryati Soedibyo) dan WEA (Women Entrepreneurship Academy). Sesekali beliau ikut mengawasi jalannya perusahaan yang kini dilanjutkan anaknya, Putri K. Wardani sebagai Presiden Direktur PT. Mustika Ratu, Tbk.
Awet muda dan bersahaja kesan itulah yang tampak ketika melihat wanita yang berpengaruh dalam dunia kecantikan Indonesia. Mooryati yang sudah menginjak usia 88 tahun tetap terlihat cantik dan segar. Ia pun juga memberikan tips untuk selalu tampak bugar dan awet muda. Tips yang pertama adalah dengan berolah raga. “Dengan rajin berolahraga, tubuh tidak hanya dapat mengeluarkan racun-racun tetapi juga dapat memproduksi hormon-hormon pemicu rasa bahagia seperti dopamine dan serotonin,” imbuhnya. Tidak hanya dengan olahraga fisik tetapi juga olahraga mental juga dilakukannya. Mooryati selalu menyempatkan diri untuk melakukan meditasi dan berdoa agar fisik dan jiwanya terhindar dari tekanan. Tips yang kedua yaitu dengan berpuasa, dengan berpuasa adalah cara paling mudah untuk mengeluarkan racun dalam tubuh. Tips yang ketiga dan terakhir adalah dengan minum jamu. “Sejak muda saya rajin minum jamu, Saat ini pun saya masih rajin. Saya biasanya minum beras kencur yang saya buat sendiri di rumah,” kata Mooryati.
Kesuksesan memang tidak dibangun dalam sehari. Demikian pula kerajaan bisnis Mooryati tidak tercipta dalam sekejap. Segala macam sukses pada hari ini bertolak belakang dengan suasana ketika pertengahan tahun 1973. Merintis bisnisnya mulai dari garasi rumahnya dengan meramu sendiri minuman beras kencur. Ketekunannya berusaha menjadi teladan. Sehingga Mooryati Soedibyo mendirikan perusahaan jamu dan kosmetika terbesar di Indonesia yaitu PT. Mustika Ratu, Tbk. Tanpa menyerah, Mooryati secara cermat terus mengembangkan industrinya terus memperluas pasar dan menapak ke atas. Berbarengan dengan tumbuhnya kesadaran untuk kembali ke alam, jamu dan kosmetika tradisional buatan Mooryati mulai berkembang pesat. Produksinya tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat setempat, namun juga telah diterima oleh mancanegara. Produk Mustika Ratu sampai kini sudah diekspor ke kurang lebih 20 negara, diantaranya Rusia, Belanda, Jepang, Afrika Selatan, Timur Tengah, Malaysia dan Brunei.
Dengan segala pengetahuan tentang tradisi dan budaya Jawa yang Ibu Mooryati Soedibyo miliki, Beliau pun mulai mendokumentasikan pengetahuan-pengetahuan tersebut dalam bentuk buku. Buku pertamanya adalah “Seni Ngadi Saliro dan Ngadi Busono” (1978). Kemudian

ia menulis “Alam Sumber Kesehatan” di tahun 1998 yang menurutnya adalah sebuah ensiklopedia jamu-jamuan. Tahun 2000, Mooryati Soedibyo membuat buku berjudul “Pengantin Indonesia”. Tiga tahun sesudahnya, ia kembali menulis buku tentang busana keraton yang diterbitkan dalam versi bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, yaitu “Busana Keraton Surakarta Hadiningrat”. Buku terakhir yang ia tulis adalah “Transforming Woman’sVoices”, sebuah buku yang bercerita tentang pengalamannya selama 5 tahun sebagai anggota lembaga legislatif. Kini di usianya yang ke 88 tahun, Ibu Mooryati masih terus berkarya. Saat ini beliau sedang menulis buku tentang pengalaman hidupnya. Sebuah karya yang penuh inspirasi untuk kita semua, untuk bangsa dan Negara Indonesia tercinta.