HUT ke – 90 DR. BRA Mooryati Soedibyo Persembahkan Film Sultan Agung, “Tahta, Perjuangan dan Cinta.”

Jakarta – DR. BRA. Mooryati Soedibyo, Pendiri PT. Mustika Ratu Tbk dan Yayasan Puteri Indonesia telah memasuki usia ke-90 tahun. Walaupun demikian, beliau masih tetap terlihat cantik dan prima, hal ini terlihat saat beliau merayakan hari jadinya yang ke– 90 tahun, Jumat, 5 Januari 2018 di Ballroom Hotel Four Seasons Jln. Gatot Subroto, Jakarta.

Diawali dengan prosesi pemotongan tumpeng pada pukul 16.30 oleh Ibu Mooryati bersama  anak-anak dan cucunya sebagai wujud syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas segala yang telah diraihnya selama ini. Para tamu undangan yang telah hadir dapat menikmati suatu persembahan dari Paguyuban Kusumo Buwono Sentono Dalem Mangayu Bagyo Poro Undangan dengan Gending Sri Widodo dan Mugi Rahayu. Pukul 19.00 Master Ceremony (MC) Farhanisa Nasution yang juga Puteri Indonesia Sumatera Utara 2015 dan Tommy Tjokro memandu dan membuka acara dimulai dengan sambutan atau pidato dari Putra Tertua dari Ibu Mooryati sebagai perwakilan keluarga oleh Bapak Djoko Ramiadji disusul dengan pembacaan do’a oleh Bapak K.H. Maman Imanulhaq untuk memanjatkan Doa dan ucapan syukur di Malam Syukuran Hari Ulang Tahun Genap 90 Tahun Ibu Mooryati Soedibyo.

Acara dilanjutkan dengan persembahan Group Violin Kamila yang dibawakan oleh Mia dan Ana serta hiburan homor  bersama Cak Lontong. Selanjutnya kata sambutan sebagai ucapan terima kasih kepada tamu undangan dari Ibu Mooryati Soedibyo didampingi oleh Putra, Wayah, dan Buyut sambil diiringi oleh gamelan persembahan berupa Gending Ibu Pertiwi yang diaransemen menjadi IBU MOORYATI dari Paguyuban Kusumo Buwono Sentono Dalem.

Acara ini juga turut dihadiri Presiden Republik Indonesia, Bapak Ir. Joko Widodo beserta Ibu Iriana dan para menteri dari Kabinet Kerja. MC memohon kesediaan Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo untuk memberikan sambutan, ucapan selamat, serta harapannya kepada Ibu Mooryati Soedibyo yang dijemput  5 putra putri Ibu Mooryati Soedibyo untuk naik keatas panggung. Para tamu tamu undangan yang hadir juga dipersembahkan sebuah tayangan Video 90th Years Memorable Time of Ibu Mooryati Soedibyo. Sebuah perjalan hidup yang penuh dengan inspirasi, motivasi dari seorang wanita untuk turut membangun negeri.  

Acara syukuran yang penuh hikmat dan nuansa budaya ini juga dihadiri oleh Puteri Indonesia Lingkungan 2017 yang juga menyandang gelar Miss International 2017, Kevin Lilliana, Puteri Indonesia Pariwisata 2017, Karina Nadila, Puteri Indonesia Perdamaian 2017, Dea Rizkita serta Sutradara film Sultan Agung, “Tahta, Perjuangan dan Cinta”, Hanung Bramantyo dan para pemerannya seperti Ario Bayu, Anindia kusuma Putri, Adinia Wirasti, Putri Marino, dan Marthino Lio.

Dipenghujung acara sebuah mahakarya sejarah persembahan dari Ibu Mooryati Soedibyo sebagai eksekutif produser film Sultan Agung “The Untold Story” dengan tema Tahta, Perjuangan dan Cinta yang akan ditayangkan di 21 Cinema di seluruh Indonesia. Para tamu undangan dapat menyaksikan persembahkan teaser film kolosal perjuangan dari Sultan Agung “The Untold Story”.

  1. BRA. Mooryati Soedibyo

Telah lahir seorang wanita yang sangat inspiratif yang hingga kini terus menginspirasi wanita Indonesia untuk berkarya dan mandiri,di Villa Seneng Surakarta, Gedung Bondo Lumakso, Keraton Surakarta Hadiningrat, pada 5 Januari 1928. Wanita yang dijuluki “Empu Jamu” ini merupakan cucu Sri Susuhunan Pakoe Boewono X Keraton Surakarta. Ayahanda dari Ibu Mooryati, KRMTA Poornomo Hadiningrat, menjabat sebagai Bupati Brebes, putra sulung Bupati Demak, K.P.A. Hadiningrat. Anggota Volksraad (Parlement Hindia Belanda) yang tanpa kenal lelah memperjuangkan kepentingan rakyat Demak yang selalu menderita kebanjiran dan kelaparan. Ibundanya bernama GRA Kussalbiyah, Puteri Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakoe Boewono X, dari Keraton Surakarta Hadiningrat.

Ia terkenal dengan segala hal yang berkaitan dengan kecantikan, jamu tradisional, dan lingkungan keraton. Sejak usia 3 tahun, Ibu Mooryati sudah tinggal di Keraton Surakarta yang dikenal sebagai sumber kebudayaan Jawa. Di sinilah Ibu Mooryati membiasakan dan menghayati tradisi budaya keraton, belajar membiasakan berbahasa Jawa yang baik, tatakrama, berbagai tata seni dan tradisi sarana perawatan kesehatan dan kecantikan, peribahasa, dan filosofi Keraton. Sejak kecil Ibu Mooryati telah membiasakan minum jamu yang diramu oleh mbah Nyai Sri Mulki, seorang ahli herbalis wanita, abdi dalam keraton.

Usianya yang sudah memasuki 90 tahun tidak pernah menyurutkan langkahnya dalam berkarya. Beliau masih aktif dalam berbagai kegiatan, seperti sebagai salah satu penasehat HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), pembicara seminar dan lokakarya juga sekolah yang beliau dirikan yaitu LPPMS (Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Mooryati Soedibyo) dan WEA (Women Entrepreneurship Academy). Sesekali beliau ikut mengawasi jalannya perusahaan yang kini dilanjutkan anaknya, Putri Kus WisnuWardani sebagai Presiden Direktur PT Mustika Ratu, Tbk.

Awet muda dan bersahaja kesan itulah yang tampak ketika melihat wanita yang berpengaruh dalam dunia kecantikan Indonesia. Mooryati yang sudah menginjak usia 90 tahun tetap terlihat cantik dan segar. Ia pun juga memberikan tips untuk selalu tampak bugar dan awet muda. Tips yang pertama adalah dengan berolah raga. “Dengan rajin berolahraga, tubuh tidak hanya dapat mengeluarkan racun-racun tetapi juga dapat memproduksi hormon-hormon pemicu rasa bahagia seperti dopamine dan serotonin,” imbuhnya. Tidak hanya dengan olahraga fisik tetapi juga olahraga mental juga dilakukannya. Mooryati selalu menyempatkan diri untuk melakukan meditasi dan berdoa agar fisik dan jiwanya terhindar dari tekanan. Tips yang kedua yaitu dengan berpuasa, dengan berpuasa adalah cara paling mudah untuk mengeluarkan racun dalam tubuh. Tips yang ketiga dan terakhir adalah dengan minum jamu. “Sejak muda saya rajin minum jamu, Saat ini pun saya masih rajin. Saya biasanya minum beras kencur yang saya buat sendiri di rumah,” kata Mooryati.

Kesuksesan memang tidak dibangun dalam sehari. Demikian pula kerajaan bisnis Mooryati tidak tercipta dalam sekejap. Segala macam sukses pada hari ini bertolak belakang dengan suasana ketika pertengahan tahun 1973. Merintis bisnisnya mulai dari garasi rumahnya dengan meramu sendiri minuman beras kencur. Ketekunannya berusaha menjadi teladan. Sehingga Mooryati Soedibyo mendirikan perusahaan jamu dan kosmetika terbesar di Indonesia yaitu PT. Mustika Ratu, Tbk. Tanpa menyerah, Mooryati secara cermat terus mengembangkan industrinya terus memperluas pasar dan menapak ke atas. Berbarengan dengan tumbuhnya kesadaran untuk kembali ke alam, jamu dan kosmetika tradisional buatan Mooryati mulai berkembang pesat. Produksinya tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat setempat, namun juga telah diterima oleh mancanegara. Produk Mustika Ratu sampai kini sudah diekspor kurang lebih ke 20 negara, diantaranya Rusia, Belanda, Jepang, Afrika Selatan, Timur Tengah, Malaysia dan Bruneidan negara lainnya.

Dengan segala pengetahuan tentang tradisi dan budaya Jawa yang Ibu Mooryati miliki, Beliau pun mulai mendokumentasikan pengetahuan-pengetahuan tersebut dalam bentuk buku. Buku pertamanya adalah “Seni Ngadi Saliro dan Ngadi Busono” (1978). Kemudian ia menulis “Alam Sumber Kesehatan” di tahun 1998 yang menurutnya adalah sebuah ensiklopedia jamu-jamuan. Tahun 2000, Mooryati Soedibyo membuat buku  berjudul “Pengantin Indonesia”. Tiga tahun sesudahnya, ia kembali menulis buku tentang busana keraton yang diterbitkan dalam versi bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, yaitu “Busana Keraton Surakarta Hadiningrat”. Selanjutnya Beliau menulis buku “Transforming Woman’s Voices”, sebuah buku yang bercerita tentang pengalamannya selama 5 tahun  sebagai anggota lembaga legislatif. Tahun 2016, Ibu Mooryati menulis buku tentang pengalaman hidupnya (otobiografy) yang berjudul Menerobos Tradisi Memasuki Dunia Baru ( the Untold Story) yang diterbitkan oleh Gramedia. Kini diusianya yang ke 90, Ibu Mooryati sedang memproduksi sebuah karya yang penuh inspirasi untuk kita semua, untuk bangsa dan negara Indonesia tercinta yaitu sebuah film yang berjudul Sultan Agung, “ Tahta, Perjuangan dan Cinta”.

 

 

Film Sultan Agung “Tahta, Perjuangan dan Cinta Dedikasi untuk seni budaya, sejarah bangsa Indonesia

Sebagai persembahan dan dedikasinya pada seni budaya dan sejarah bangsa Indonesia, diusaianya yang ke 90 tahun ini, Mooryati tetap dan terus berkarya dengan memproduksi sebuah film sejarah kolosal yang berjudul Sultan Agung, Tahta, Perjuangan dan Cinta. Sebuah perjuangan Sultan Agung melawan penjajah Belanda di Mataram yang akan diangkat ke layar lebar.

Mendirikan Rumah Produksi yang bernama Mooryati Soedibyo Cinema (MSC), Mooryati Soedibyo sebagai Executive Producer turut mendukung proses kreatif film nasional untuk mengangkat tema sejarah, khususnya perjuangan Sultan Agung Hanyokrokusumo Mataram 1628. Mooryati berharap film ini dapat menanamkan nilai-nilai patriotisme dan heroisme di kalangan generasi muda.

Kekuatan film ini adalah mengangkat semangat perjuangan heroik dalam mengusir penjajah/kolonial VOC, dengan darah pasukan Mataram yang berkorban atas titah Sultan Agung Hanyokrokusumo. Bahwa, jangan pernah kembali ke bumi Mataram jika Batavia belum ditaklukan.

Sultan Agung Hanyokrokusumo (1593-1646) adalah raja ke-tiga Kerajaan Mataram yang memerintah pada 1613-1646. Putra dari pasangan Susuhunan Prabu Hanyakrawati (raja ke-2 Mataram) dengan Ratu Mas Adi Dyah Banawati itu lahir dengan nama Raden Mas Jatmika atau terkenal juga dengan sebutan Raden Mas Rangsang.

“Generasi muda bisa mengambil contoh, nilai-nilai dari film ini, termasuk strategi dan semangat patriotisme Sultan Agung untuk diterapkan di masa kini, film ini akan memberikan inspirasi kegigihan semangat juang masyarakat Indonesia secara keseluruhan. “Terutama kalangan genersi muda yang hidup di tengah gempuran modernisasi agar nilai-nilai luhur sejarah, patriotisme, nasionalis, dan humanis tetap dijaga dan dipertahankan sebagai identitas bangsa ” kata Mooryati Soedibyo.

“Perlu digarisbawahi, bahwa perjuangan Sultan Agung Mataram ternyata tidak kalah dan tidak menyerah kepada VOC. Hanya saja saat itu perjuangan terpaksa berhenti untuk menghindari banyaknya rakyat jatuh korban akibat persenjataan yang tak imbang antara pasukan Sultan Agung Mataram dan Belanda. Sesudah wafatnya Jan Pieter Zoon Coen dan Sultan Agung Mataram, perjuangan masih meresap dalam masyarakat Indonesia. Para kepala daerah di pulau-pulau luar Jawa, bergantian melakukan pemberontakan terhadap berdirinya negara Nederland Hindia Belanda. Perjuangan Sultan Agung tidak sia-sia dan masih kita lanjutkan sampai sekarang,” tegas Mooryati.( PR )